Rabu, 23 Januari 2013

KURIKULUM DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia diciptakan Allah SWT begitu mulia, karena selain bentuk yang sempurna manusia juga dibekali piranti-piranti berupa akal, fitrah, qolbu, dan nafsu sehingga ia mampu mentransformasikan segala anugerah itu untuk dapat mengaktualisasikan diri dalam mencapai kesempurnaan sebagai khalifah di muka bumi. Untuk dapat mencapai itu semua manusia butuh proses atau kegiatan yang ilmiah yaitu pendidikan. Pendidikan merupakan bentuk usaha sadar dan terencana yang berfungsi untuk mengembangkan potensi yang ada pada manusia agar bisa digunakan untuk kesempurnaan hidupnya dimasa depan nanti. Jika dilihat dalam perspektif Islam adalah untuk membentuk manusia menjadi manusia seutuhnya (insan kamil) dan menciptakan bentuk masyarakat yang ideal dimasa depan. Dari istilah insan kamil ini maka segala aspek dalam pendidikan haruslah sesuai dengan idealitas Islam. Setiap kegiatan yang akan dilakukan apa lagi untuk mencapai sesuatu dari yang dilakukan tersebut memerlukan suatu perencanaan atau pengorganisasian yang dilaksanakan secara sistematis dan terstruktur. Demikian juga dalam suatu pendidikan baik jenis dan jenjangnya pasti memerlukan suatu program yang terencana dan sistematis sehingga dapat menghantarkan pada tujuan yang diinginkan, yang proses perencanaan ini dalam istilah pendidikan disebut dengan kurikulum. Dalam kurikulum, tidak hanya dijabarkan serangkaian ilmu pengetahuan yang harus diajarkan oleh pendidik kepada anak didiik, tetapi juga segalah kegiatan yang bersifat kependidikan yang dipandang perlu karena mempunyai pengaruh terhadap anak didik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan islam. Disamping itu, kurikulum juga hendaknya dapat dijadikan ukuran kwalitas proses dan keluaran pendidikan sehingga dalam kurikulum sekolah telah tergambar berbagai pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang diharapkan dimiliki setiap lulusan sekolah. Salah satu tugas dari filsafat pendidikan islam adalah memberikan arah bagi tercapainya tujuan pendidikan islam. Tujuan pendidikan islam yang akan dicapai harus direncanakan atau di programkan melalui kurikulum. Oleh karena itu kurikulum merupakan faktor yang sangat penting dalam proses pendidikan pada lembaga pendidikan islam. Dengan demikian akan menjadi jelas dan terencana tentang bagaimana dan apa yang harus diterapkan dalam proses belajar mengajar. Dari uraian di atas, maka fokus pembahasan makalah ini adalah “ Bagaimana kurikulum dalam perspektif filsafat pendidikan islam “? B. Rumusan Masalah 1. Pengertian Dan Bahan Kurikulum Pendidikan Islam 2. Ciri-Ciri Kurikulum Pendidikan Islam 3. Asas- Asas Kurikulum Pendidikan Islam 4. Prinsip-Prinsip Kurikulum Pendidikan Islam 5. Isi Kurikulum Pendidikan Islam C. Tujuan Makala 1. Mengetahui Apa Dan Bagaimana Kurikulum Pendidikan Islam. 2. Mengetahui Pentingnya Kurikulum Pendidikan Islam Di Sekolah. BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian dan Bahan Kurikulum Secara harfiah kurikulum berasal dari bahasa latin, curriculum yang berarti bahan pengajaran.Ada yang mengatakan berasal dari bahasa prancis courier yang berarti berlari. Ada pula yang mengatakan kurikulum berasal dari bahasa Yunani yaitu “curir” yang artinya pelari dan “curere” yang artinya jarak yang harus ditempuh oleh pelari. Jika dikaitkan dengan pendidikan, kurikulum ini berarti bahan pengajaran, sedangkan dalam kosa kata bahasa Arab istilah kurikulum dikenal dengan “manhaj” yang berarti jalan terang yang dilalui oleh manusia pada berbagai bidang kehidupannya. Jika dikaitkan dengan pendidikan berarti jalan terang yang dilalui pendidik dengan peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap mereka. Sedangkan secara terminologi, pengertian kurikulum dapat kita lihat atau baca dari para ahli berikut ini: a. Crow and Crow : Kurikulum adalah rancangan pengajaran yang isinya sejumlah mata pelajaran yang disusun secara sistematis sebagai syarat untuk menyelesaikan suatu program pendidikan tertentu. b. Saylor Alexander (dikutip S. Nasution) : Kurikulum bukan hanya memuat sejumlah mata pelajaran, akan tetapi termasuk juga didalamnya segala usaha sekolah untuk mencapai tujuan yang diinginkan baik di lingkungan sekolah maupun diluar lingkungan sekolah. c. Hasan langgulung : Kurikulum adalah sejumlah pengalaman pendidikan, kebudayaan, sosial, olahraga, dan kesenian baik yang dilaksanakan dilingkup sekolah maupun diluar lingkungan sekolah. d.UU No 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional dikatakan bahwa kurikulum seperangkat rencana dan peratutan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar. Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa kurikulum itu merupakan salah satu komponen yang sangat menentukan dalam suatu sistem pendidikan. Jadi kurikulum merupakan alat dalam pencapaian tujuan pendidikan dan sekaligus sebagai pedoman dalam pelaksaan pembelajaran pada semua jenis dan tingkat pendidikan. Dengan demikian, pengertian kurikulum dalam pandangan modern merupakan program pendidikan yang disediakan oleh sekolah yang tidak hanya sebatas bidang studi dan kegiatan belajar saja. Akan tetapi meliputi segala sesuatu yang dapat mempengaruhi perkembangan dan pembentukan pribadi siswa sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan sehingga dapat meningkatkan mutu kehidupannya yang pelaksaannya bukan hanya disekolah, tapi juga diluar sekolah. Dalam pengajaran biasanya hanya terfokus pada ruang kelas saja, tapi dengan perkembangan yang terjadi saat ini sumber pendidikan dapat diperoleh dari berbagai hal diluar kelas seperti perpustakaan, museum, majalah,televisi, surat kabar, radio dan yang lebih memudahkan lagi adalah internet yang segala sesuatunya ada informasinya didalamnya. Jadi kurikulum juga harus mempertimbangkan hal itu agar peserta didik bisa terus mengikuti perkembangan dari suatu ilmu pengetahuan, tekhnologi, kebudayaan dan lain sebagainya yang ada diluar dari sekolah agar tidak dicap siswa yang gagal akan perkembangan zaman. B. Ciri-Ciri Kurikulum Pendidikan Islam Secara umum, kurikulum tersusun dengan beberapa aspek utama yang menjadi cirrinya. Hasan Langgulung mengungkapkan empat ciri-ciri utama dari kurikulum, yaitu: a. Tujuan pendidikan yang ingin dicapai oleh kurikulum itu. b. Pengetahuan (knowledge) ilmu-ilmu data, aktivitas-aktivitasnya dan pengalaman-pengalaman dari mana terbentuk kurikulum itu. c. Metode dan cara-cara mengajar dan bimbingan yang diikuti murid-murid untuk mendorong mereka ke arah yang dikehendaki dan tujuan-tujuan yang dirancang. d. Metode dan cara penilaian yang digunkan untuk mengukur dan menilai hasil proses pendidikan yang dirancang dalam kurikulum. Berangkat dari ke kempat hal yang menjadi aspek pokok kurikulum, maka jika dikaitkan dengan filsafat pendidikan yang dikembangkan pada pendidikan islam tentu semua akan menyatu dan terpadu dengan ajaran islam itu sendiri. Pendidikan yang merupakan suatu proses memanusiaan manusia pada hakekatnya adalah sebuah upaya untuk meningkatkan kualitas manusia. Oleh karena itu, setiap proses pendidikan akan berusaha mengembangkan seluas-luasnya potensi individu sebagai sebuah elemen penting untuk mengembangkan dan mengubah masyarakat (agent of change). Dalam upaya itu, setiap proses pendidikan membutuhkan seperangkat sistem yang mampu mentransformasi pengetahuan, pemahaman, dan perilaku peserta didik. Dan salah satu komponen operasional pendidikan sebagai sistem adalah kurikulum, dimana ketika kata itu dikatakan, maka akan mengandung pengertian bahwa materi yang diajarkan atau dididikkan telah tersusun secara sistematik dengan tujuan yang hendak dicapai. Omar Mohammad al- Toumy al- Syaibany menyebutkan lima ciri kurikulum pendidikan islam sebagai berikut; a. Menonjolkan tujuan agama dan akhlak pada berbagai tujuan-tujuannya dan kandungan – kandungan, metode-metode,alat-alat, dan tekniknya bercorak agama. b. Meluas cakupannya dan menyeluruh kandungannya. c. Bersikap seimbang diantara berbagai ilmu yang dikandung dalam kurikulum yang akan digunakan. Selain itu juga seimbang antara pengetahuan yang berguna bagi pengembangan individual dan pengembangan social. d. Bersikap menyeluruh dalam menata seluruh mata pelajaran yang diperlukan oleh anak didik. e. Kurikulum yang disusun selalu disesuaikan dengan minat dan bakat anak didik. Sedangkan Al-Shaybani mengatakan bahwa kurikulum pendidikan islam haruslah mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : a. Menonjolkan mata pelajaran dan akhlak . Agama dan akhlak seharusnya diambil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah serta contoh-contoh dari orang terdahulu yang sholeh. b. Memperhatikan pengembangan yang menyeluruh dari aspek pribadi siswa yaitu jasmani, akal dan rohani c. Memperhatikan keseimbangan antara pribadi dan masyarakat, jasmani dan rohani, dunia dan akhirat, keseimbangan itu tentunya bersifat relative karena tidak dapat diukur secara objektif d. Memperhatikan juga seni halus,seperti ukir, pahat, tulis indah, gambar dan sejenisnya.Selain itu juga memperhatikan pendidikan jasmani seperti latihan militer, tehnik, keterampilan dan bahasa asing sekalipun, semua ini diberikan kepada perorangan secara aktif sesuai bakat, minat,dan kebutuhan. e. Mempertimbangkan perbedaan-perbedaan kebudayaan yang sering terdapat di tengah manusia karena perbedaan tempat dan perbedaan zaman. Kurikulum dirancang sesuai kebudayaan. C. Asas-Asas Kurikulum Secara teoritis penyusunan sebuah kurikulum harus berdasarkan asas-asas tertentu. Asas – asas tersebut antara lain menurut S.Nasution yaitu : 1. Asas Filosofis Berperan sebagai penentuan tujuan umum pendidikan sehingga penyusunan kurikulum mengandung kebenaran, dimana asas ini merupakan pandangan hidup mendidik anak sesuai dengan tujuan pendidikan. Asas filosofis membawa rumusan kurikulum pendidikan islam kepada tiga dimensi:ontologi, epistemologi, dan aksiologi.Dimensi ontologi mengarahkan kurikulum agar lebih banyak memberi anak didik kesempatan untuk berhubungan langsung dengan fisik-fisik, obyek-obyek.Pada mulanya dimensi ini diterapkan Allah SWT.dalam pengajaranNya kepada nabi Adam as dengan memberitahukan atau mengajarkan nama-nama benda (QS.Al-Baqarah{2}:31) dan belum sampai pada tahap penalaran atau pengembangan wawasan.Demensi epistemologi adalah perwujudan kurikulum yang sah,yang berdasarkan metode kontruksi pengetahuan yang disebut metode ilmiah,yang sifatnya mengajak berfikir menyeluruh,reflektif dan kritis, implikasi dimensi epistemologi dalam rumusan kurikulum, isinya cenderung fleksibel karena pengetahuan yang dihasilkan tidak mutlak, tentatif dan dapat berubah-ubah. (QS.Al-Baqarah {2}:26-27); dan dimensi aksiologi mengarahkan pembentukan kurikulum agar memberikan kepuasan pada diri peserta didik agar memiliki nilai-nilai yang ideal, supaya hidup dengan baik dan terhindar dari nilai-nilai yang tidak diinginkan.Nilai-nilai ideal ini bisa menimbulkan daya guna dan fungsi yang bermanfaat bagi peserta didik dalam kelangsungan hidup menuju kesempurnaan, kenyamanan dan dijauhi dari segala sesuatu yang menimbulkan kesengsaraan atau kerugian Tugas ketiga dimensi tersebut merupakan kerangkah dalam perumusan kurikulum pendidikan islam. Dari berbagai macam filsafat pada dasarnya memberikan khasana intelektual di bidang kurikulum pendidikan islam lainnya, semakin banyak pula kontribusi teori dan konsep. Teori dan konsep yang ditimbulkan dari berbagai macam aliran filsafat tidak dapat begitu saja diterima atau ditolak, namun diseleksi terlebih dahulu kemudian hasilnya dimodifikasi pada khasana kurikulum pendidikan islam 2. Asas Sosiologis Memberikan dasar untuk menentukan apa saja yang akan dipelajari sesuai dengan kebutuhan masyarakat, kebudayaan, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. 3. Asas Organisatoris Asas ini memberikan dasar-dasar dalam bentuk bagaimana bahan itu disusun, dan bagaimana penentuan luas dan urutan mata pelajaran. 4. Asas Psikologis Asas ini memberikan prinsip – prinsip tentang perkembangan anak didik dalam berbagai aspeknya, serta cara menyampaikan bahan pelajaran agar dapat dipahami oleh anak didik sesuai dengan perkembangan. D. Prinsip-Prinsip Kurikulum Pendidikan Islam Menurut Al-Taumi sebagaimana yang di kutip oleh Muhammad Zein dalam bukunya ‘’ Materi filsafat pendidilan islam “, prinsip dasar yang harus dipegengi dalam menyusun kurikulum pendidikan islam adalah: 1. Kurikulum pendidikan islam harus bertautan dengan agama,termasuk ajaran dan nilainya. 2. Tujuan dan kandungan kurikulum pendidikan islam harus menyeluruh (universal) 3. Tujuan dan kandungan kyrikulum pendidikan islam harus adanya keseimbangan. 4. Kurikulum pendidikan islam harus berkaitan dengan bakat, minat, kemampuan dan kebutuhan anak didik serta alam lingkungan di mana anak didik tersebut hidup. 5. Kurikulum pendidikan islam harus dapat memelihara perbedaanindividu diantara anak didik dalam bakat, minat, kemampuan dan kebutuhan mereka. 6. Kurikulum pendidikan islam harus mengikuti perkembangan dan perubahan zaman, filsafah, prinsip, dasar, tujuan dan metode pendidikan islam harus dapat memenuhi tuntutan zaman. 7. Kurikulum pendidikan islam harus bertautan dengan pengalaman dan aktifitas anak didik dalam masyarakat. H.M. Arifin dalam bukunya “ Ilmu Pendidikan Islam” mengemukakan empat prinsip dalam penyusunan kurikulum pendidikan islam yaitu: 1. Kurikulum pendidikan yang sejalan dengan idealitas islami adalah kurikulum yang mengandung materi (bahan) ilmu pengetahuan yang mampu berfungsi sebagai alat untuk tujuan hidup islami. 2. Untuk berfungsi alat yang efektif mencapai tujuan tersebut, kurikulum harus nengandung tata nlai islami yang intrinsik dan ekstrinsik mampu merealisasikantujuan pendidikan islam. 3. Kurikulum yang bercirikan islami itu diproses melalui metode yang sesuai dengan nilai yang terkandung di dalam tujuan pendidikan islam 4. Antara kurikulum, metode, dan tujuan pendidikan islam harus saling menjiwai dalam proses mencapai produk bercita-citakan menurut ajaran islam. E. Isi Kurikulum Pendidikan Islam Cakupan bahan pengajaran yang ada dalam suatu kurikulum kini terus semakin luas atau mengalami perkembangan karena tuntutan dari kemajuan ilmu pengetahuan, kebudayaan, tekhnologi yang terjadi di dalam masyarakat, dan beban yang diberikan pada sekolah. Berdasarkan tuntutan perkembangan itu maka para perancang menetapakan cakupan kurikulum meliputi 4 bagian yaitunya : a.Tujuan merupakan arah, sasaran, target yang akan dicapai melalui proses belajar mengajar. b. Isi merupakan bagian yang berisi pengetahuan, informasi, data, aktifitas, dan pengalaman yang diajarkan kepada peserta didik untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan. c. Metode merupakan cara yang digunakan guru atau dosen kepada peserta didik untuk menyampaikan mata pelajaran agar mudah dimengerti. d. Evaluasi merupakan cara yang dilakukan guru untuk melakukan penilaian dan pengukuran atas hasil mata pelajaran. Untuk menentukan kualifikasi isi kurikulum pendidikan islam dibutuhkan syarat yang perlu diajukan dalam perumusan yaitu: (a). Materi yang disusun tidak menyalahi fitrah manusia, (b). Adanya relevansi dengan tujuan pendidikan islam, (c). Disesuaikan dengan tingkat perkembangan dan usia peserta didik, (d). Membawa peserta didik kepada objek empiris dan praktik langsung, (e). Penyusunan bersifat integral, terorganisasi, (f). Materi sesuai dengan masalah mutakhir yang sedang dibicarakan, (g). Adanya metode yang sesuai, (h). Materi yang diajarkan berhubungan dengan peserta didik nantinya., (i). Memperhaikan aspek sosial, (j). Punya pengaruh positif, (k). Memperhitungkan waktu, tempat, (l). Adanya ilmu alat ayng mempelajari ilmu lain. Setelah syarat itu dipenuhi disusunlah isi kurikulum pendidikan. Isi kurikulum menurut Ibnu Khaldum terbagi jadi 2 tingkatan: 1) Tingkatan Pemula Materi kurikulum difokuskan pada Al-Qur’an dan As-Sunnah 2) Tingkatan Atas Tingkatan ini punya 2 klasifikasi: • Ilmu yang berkaitan dengan zatnya • Ilmu yang berkaitan dengan ilmu lain seperti ilmu bahasa, matematika, mantiq Menurut Al-Ghazali klasifikasi isi kurikulum pada 3 kelompok yaitu: a. Kelompok menurut kuantitas yang mempelajari • Ilmu fardhu ‘ain yaitu ilmu yang harus diketahui oleh setiap muslim yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah • Ilmu fardhu kifayah yaitu ilmu yang cukup dipelajari oleh sebagian orang muslim saja misalnya kedokteran, pertanian dan lainnya b. Kelompok menurut fungsinya • Ilmu tercela adalah ilmu yang tidak berguna untuk masalah dunia maupun akhirat serta mendatangkan kerusakan • Ilmu terpuji adalah ilmu agama yang dapat mensucikan jiwa dan menghindari hal-hal yang buruk, serta ilmu yang dapat mendekatkan diri pada allah • Ilmu terpuji dalam batasan tertentu tidak bolaeh dipelajari secara mendalam karena akan mendatangkan ateis c. Kelompok menurut sumbernya • Ilmu Syar’iyah adalah ilmu-ilmu yang didapat dari wahyu ilahi dan sabda nabi • Ilmu ‘Aqliyah adalah ilmu yang berasal dari akal pikiran setelah mengadakan eksperimen dan akulturas. Allah berfirman dalam Q.S. Fushshilat ayat 53 mengenai isi kurikulum yang artinya:“Kami akan memeperlihatkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan kami disegenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Quran iu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup bagi kamu bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu” Ayat tersebut terkandung 3 isi kurikulum pendidikan islam yaitunya: 1. Isi kurikulum berdasarkan pada ketuhanan 2. Isi kurikulum berorientasi pada manusia 3. Isi kurikulum berorientasi pada alam. BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut : 1. Kurikulum merupakan cakupan sejumlah mata pelajaran yang harus dilalui oleh pendidik dan anak didik sesuai tujuannya untuk tingkat tertentu yaitu untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan mereka dimanapun usaha itu dilakukan, baik di dalam kelas maupun di luar kelas. 2. Filsafat pendidikan islam berperan sebagai penentu tujuan umum pendidikan, memberikan arah bagi tercapainya tujuan pendidikan islam, sehingga kurikulum mengandung nilai-nilai yang diyakini kebenarannya. 3. Asas –asas kurikulum,meliputi: • Asas Filosofis • Asas Sosiologis • Asas Organisatoris • Asas Psikologis 4. Kurikulum pendidikan islam mempunyai ciri-ciri tersendiri yang berbeda dengan kurikulum yang lain dan terus mengalami perkembangan seiring dengan perkembangan zaman, akan tetapi asas, materi dan prinsip kurikulum tetap bersumber pada Al-Qur’an dan Sunnah DAFTAR PUSTAKA Nugiyantoro, Burhan, ,Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum Sekolah .Sebuah Pengantar Teoritis Dan Pelaksanaan , BPFE ,Yogyakarta: 1980 Al-Rasy Nata,Abudin. Filsafat Pendidikan Islam 1. Logos Wacana Ilmu, Jakarta: 1997. Suharto,Toto, Filsafat Pendidikan Islam, Ar-Ruz Media, Yogyakarta: 2006 Idin dan Syamsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam : Pendekatan Histories, Teoritis, dan Praktis, Ciputat Press, Ciputat : 2005 Arifin, H.M. T.th, Filsafat Pendidikan Islam, cet.ke-4, Bumi Aksara Jakarta Abdul Mujib, Ilmu Pendidikan Islam, Kencana, Jakarta : 2005 Uman Cholil, Ikhtisar Ilmu Pendidikan Islam, Surabaya: Duta Aksara,1998 Muhaimin & Mujib Abdul, Pemikiran Pendidikan Islam : Kajian Filosofis dan Kerangkah Dasar Oprasionalnya cet.ke 1, Trigenda Karya, Bandung: 1993 Azas-Azas Kurikulum Pendidikan Islam. Azas merupakan dasar atau inti dalam pembentukan suatu kurikulum dan juga yang mempengaruhi atau menentukan perkembangan suatu kurikulum. Suatu kurikulum harus mengandung unsur seperti tujuan, isi, metode, dan penilaian yang kesemuanya juga menjadi landasan dalam pembentukan dan pengembangan kurikulum. Herman H. Horne memberikan dasar kurikulum dengan 3 macam yaitu:[6] a. Dasar psikologis yang digunakan untuk mengetahui kemampuan yang diperoleh dari pelajar dan kebutuhan peserta didik. b. Dasar sosiologis yang digunakan untuk mengetahui tuntutan sah dari masyarakat. c.Dasar filosifis yang digunakan untuk mengetahui keadaan alam semesta tempat kita hidup. Ketiga dasar diatas jika dihubungkan dengan perspektif Islam belum dikatakan sempurna karena yang menjadi dasar, yaitunya Islam tidak ada terkandung didalamnya. Dalam pendidikan Islam ada usaha untuk menginternalisasikan nilai-nilai agama islam sebagai titik sentral tujuan dalam proses pedidikanislam itu sendiri. Oleh karena itu, al-Syaibani menetapkan dasar pokok dalam kurikulum Islam sebagai berikut:[7] a. Dasar agama. Dasar agama dalam kurikulum pendidikan islam harus berdasarkan nilai-nilai yang ada al-Qur’an dan Sunnah Rasul, karena kedua unsur ini adalah kebenaran yang bersifat universal, abadi, dan tidak ada keraguan didalamnya. Sabda Rasul: إني قد تركت فيكم ماإن اعتصمتم به فلن تضلوا أبدا كتاب الله تعالى وسنة نبيه Artinya: “Sesungguhnya aku telah meninggalakan untuk kamu, yag jika kamu berpegang teguh dengannya, maka kamu tidak akan tersesat selama-lamanya, yakni Kitabullah dan Sunnah Nabinya.” (hadist riwayat hakim) b. Dasar falsafah. Dasar ini memberikan arah dan kompas tujuan pendidkan Islam, dengan dasar filosofis susunan kurikulum pendidikan Islam mengandung suatu kebenaran. Dari dasar falsafah ini membawa konsekuen bahwa rumusan kurikulum pendidikan Islam ini beranjak dari konsep atau dimensi ontologi, epistimologi, dan aksiologi. • • Dimensi ontologi Konsep ini mengarahkan kurikulum agar lebih banyak memberi peserta didik untuk berhubungan langsung dengan objek. Dimensi ini diambil dari proses pembelajaran yang dilakukan oleh Allah SWT kepada Nabi Adam as dengan memberitahukan dan mengajarkan nama-nama benda (asma’). Firman Allah S.W.T : Artinya: “Dan dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda) seluruhnya, kemudian mengemukakan pada para malaikat, lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama-nama benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar.” (Q.S. al-Baqarah : 31) Dari hal diatas berarti dimensi ini lebih pada pengalaman atau data yang didapat oleh peserta didik langsung dari apa yang dia lihat dan rasa dari pengalaman sehari-hari mereka. • • Domensi epistimologi Perwujudan kurikulum yang valid harus berdasarkan pendekatan metode ilmiah yang sifatnya mengajar berpikir menyeluruh, reflektif, dan kritis. Dampak dimensi epistimologi dalam rumusan kurikulum adalah: 1. Penguasaan konten (the what) yang tidak sepenting dengan penguasaan bagaiman memperoleh ilmu pengatahuan itu. Berarti pemahaman atau penguasaan suatu ilmu itu tidak penting tapi bagaimana ilmu itu diperoleh (diproses) itu yang dikaji. 2. Kurikulum lebih memberatkan pada pelajaran proses maksudnya disini bagaimana siswa merekonstruksi ilmu, aktivitas yang ada, serta bagaimana pemecahan suatu masalah. 3. Konten cenderung bersifat fleksibel karena pengetahuan itu bersifat tidak mutlak dan dapat berubah-ubah, karena alam akan mengalami perubahan dari saat kesaat. Umar bin al-Khattab menyatakan: إن أبائكم قد خلقوا لجيل غير جيلكم و لزمان غير زمانكم Artinya: “Sesungguhnya anak-anakmu dijadikan untuk generasi yang lain dari generasimu, dan zaman yang lain dari zamanmu.” • • Dimensi aksiologi Dimensi ini mengarahkan pembentukan kurikulum agar memberikan kepuasan pada diri peserta didik agar memiliki nilai-nilai yang ideal, supaya hidup dengan baik dan terhindar dari nilai-nilai yang tidak diinginkan. Nilai-nilai ideal ini bisa menimbulkan daya guna dan fungsi yang bermanfaat bagi peserta didik dalam kelangsungan hidup menuju kesempurnaan, kenyamana dan dijauhi dari segala sesuatu yang menimbulkan kesengsaraan atau kerugian. c. Dasar psikologi. Dasar ini mempertimbangkan tahapan-tahapan pertumbuhan dan perkembangan yang dilalui oleh anak didik seperti halnya perkembangan jasmaniah, intelektual, bahasa, emosi, sosial, kebutuhan, keinginan individu, minat, dan kecakapan. d. Dasar sosial. Dasar ini menjelaskan bahwa pembentukan kurikulum pendidikan islamharus mengacu kearah realisasi individu dalam mesyarakat sehingga manusia mampu mengambil peran dalam masyarakat dan kebudayaan dalam konteks kehidupan zamannya. Segala aspek hidup kita tidak luput dari yang namanya masyarakat. Kurikulum dalam pembentukannyapun kita harus berpatokan pada masyarakat, karena segala sesuatunya berasal dari masyarakatdan kembalinya kepada masyarakat. Maka tuntutannya dari masa kemasa tidak selalu sama mengalami perubahan. e.Dasar organisator. Dasar ini mengenai bentuk penyusunan (pengorganisasian) materi pelajaran yang akan diajarkan. Berdasarkan kelima azas diatas, antara azas yang satu dengan azas yang lainnya tidak bisa berdiri sendiri mereka saling berhubungan dan berubah sesuai kebutuhan atau kemajuan zaman. Azas diatas merupakan kesatuan yang utuh dalam pengembangan peserta didik dalam unsur ketauhidan, agama, sebagai khalifah dan lainnya. Prinsip-Prinsip Kurikulum Pendidikan Islam. Bicara mengenai prinsip berarti yang harus ada dalam kurikulum tersebut atau aspekyang harus ada dalam pengembangan kurikulum tersebut. Dalam pendidikan Islam prinsip-prinsip dalam kurikulum harus sesuai dengan sumber pokok agama yaitunya al-Qur’an dan Hadist. Prinsip yang ditetapkan Allah S.W.T dan diperintahkan Rasulullah berikut bisa dijadikan pegangan:[8] a. Firman Allah SWT Artinya: “Carilah segala apa yang telah dikaruniakan Allah kepadamu mengenai kehidupan diakhirat dan janganlah kamu melupakan nasib hidupmu didunia dan berbuatlah kebaikan sebagaimana Allah telah berbuatbaik kepadamu,” (Q.S. al-Qashash: 77) b. Sabda Rasulullah S.A.W من أراد الدنيا فعليه بالعلم و من أراد الأخرة فعليه بالعلم من أراد هما فعليه بالعلم Artinya: “Barang siapa yang menginginkan dunia (kebahagiaan hidup di dunia), maka hendaklah ia menguasai ilmunya dan barang siapa menghendaki akhirat (kebahagiaan hidup di akhirat), hendaklah ia menguasai ilmunya, dan barang siapa menghendaki keduanya, maka hendaklah ia menguasai ilmu keduanya (Hadist Nabi). Prinsip-prinsip kurikulum pendidikan islam sebagai berikut:[9] 1. Prinsip yang berorientasi pada tujuan, seluruh aktifitasnya dalam kurikulum diarahkan untuk mencapai tujuan sebagai hamba dan khalifah Allah SWT. 2. Prinsip relevansi (kesesuaian), agar kurikulum yang ditetapkan harus dibentuk sedemikian rupa sehingga tuntutan pendidikan dengan kurikulum memenuhi jenis dan mutu tenaga kerja dimasyarakat serta tuntutan Illahi. 3. Prinsip efisiensi dan efektifitas, agar kurikulum dapat mendaya gunakan waktu, tenaga, biaya secara cermat dan tepat. 4. Prinsip fleksibilitas (lentur), agar kurikulum disusun begitu lentur atau luwes sehingga bisa disesuaikan denga kondisi waktu, tempat, dan perkembangan zaman. 5. Prinsip integritas, mengupayakan kurikulum agar menghasilkan manusia yang utuh dan mampu mengimbangi zikir dan pikir, dan dapat menyelaraskan kehidupan dunia dan akhirat. 6. Prinsip kontinuitas (berkelanjutan), bagaimana susunan kurikulum saling berkesinambungan antara yang satu dengan yang lain. Jangan sampai terjadi pelajaran yang bersifat mundur tapi harus sesuai atau berkembang sesuai jenjang pendidikan. 7. Prinsip sinkronisme, bagaimana suatu kurikulum dapat seirama, senada, setujuan jangan sampai dia menghambat kegiatan lain. 8. Prinsip objektivitas, kurikulum dilakukan melalui tuntutan kebenaran ilmiah yang objektif dan mengesampingkan pengaruh emosi dan irasional (Q.S al-Midah : 8) 9. Prinsip demokratis artinya saling mengerti, memahami keadaan, situasi dan objek kurukulum. 10. Prinsip analisis mengandung tuntutan agar kurikulum dikonstruksikan melalui analisis isi bahan mata pelajaran, analisis tingkah laku sesuai denan isi materi pelajaran. 11. Prinsip individualisasi, memperhatikan perbedaan pembawaan dan lingkungan hidup seperti perbedaan watak, bakat, kelebihan, kekurangan dan lainnya. 12. Prinsip pendidikan seumur hidup, hal ini diterapkan mengingat keutuhan potensi manusia ssebagai sesuatu yang berkembang dan keutuhan wawasan dan sadar akan nilai dan semuanya tidak akan tercapai tanpa adanya belajar yang berkesinambungan. Selain dari prinsip sebelumnya, kurikulum dalam pendidikan islam mempunyai 7 prinsip yaitu:[10] Pertama, Prinsip pertautan yang sempurna dengan agama termasuk didalamnya ajaran dan nilai-nilai. Setiap bagian dalam kurikulum seperti tujuan, kandungan, metode, penilaian harus berdasarkan pada agama. Kedua, Prinsip menyeluruh pada tujuan dan kandungan kurikulum mencakup tujuan membina akidah, akal, jasmani, hal yang bermanfaat bagi masyarakat dalam perkembangan spiritual, sosial, ekonomi, politik. Ketiga, Prinsip keseimbangan yang relatif antara tujuan dan kandungan kurikulum. Keempat, Prinsip keterkaitan antara bakat, minat, kemampuan dan kebutuhan pelajar. Kelima, Prinsip pemeliharaan antara perbedaan individu diantara pelajar baik dari segi minat atau bakatnya. Keenam, Prinsip menerima perkembangan dan perubahan yang sesuai dengan perkembangan zaman dan tempat. Ketujuh, Prinsip keterkaitan antara berbagai mata pelajaran dengan pengalaman dan aktifitas yang terkandung dalam kurikulum. Karakteristik Kurikulum Pendidikan Islam. Omar muhammad at-Toumy al-Syaibani menyebutkan 5 ciri-ciri kurikulum pendidikan islam sebagai berikut:[11] a. Menonjolkan atau mementingkan tujuan agama dan akhlak dalam berbagai hal seperti tujuan, kandungan, metode, alat dan teknik. b. Meluaskan cakupan perhatian dan kandungan hingga mencakup perhatian, pengembangan serta bimbingan terhadap pribadi pelajar dari segi intelektual, psikologi, sosial dan spiritual. c. Adanya prinsip keseimbangan dalam kandungan kurikulum. d. Menekankan konsep menyeluruh dan keseimbangan dalam menata mata pelajaran yang diperlukan oleh peserta didik. e. Kurikulum sesuai dengan minat, kemampuan, keperluan, dan perbedaan antara individual dengan peserta didik lainnya. Dari karakteristik diatas berarti peserta didik tidak hanya sebagai objek dari perkembangan suatu kurikulum tetapi juga sebagai subjek maksudnya individu atau manusia yang mengembangkan dirinya menuju kesempurnaan atau kedewasaan yang sesuai dengan harapan Illahi. Karakteristik kurikulum diatas menyatakan bahwa kurikulum hanya suatu sarana untuk mengembangkan manusia dimana memiliki potensi untuk menuju kesempurnaan. Fungsi Kurikulum Pendidikan Islam 1. alat untuk mencapai tujuan dan untuk menempuh harapan manusia sesuai dengan tujuan yang dicita-citakan 2. pedoman dan program harus dilakukan oleh subjek dan objek pendidikan 3. fungsi kesinambungan untuk persiapan pada jenjang sekolah berikutnya dan penyiapan tenaga kerja bagi yang tidak melanjutkan 4. standar dalam penilaian kriteria keberhasilan suatu proses pendiikan.[12] Kurikulum pada hakikatnya adalah untuk manusia (peserta didik) yang disampaikan oleh guru dalam suatu proses pendidikan. Kurikulum harus bersifat dinamis dan konstruktif dalam arus proses perkembangan masyarakat manusia yang arahnya tidak sama atau selalu mengalami perubahan dalam berbagi aspek, karena kurikulum merupakan alat untuk mendidik generasi muda dan menolong mereka untuk membuka dan mengembangkan bakatnya,keterampilannya untuk menjadi insan yang kamil dan khalifah di bumi. ________________________________________ [1] Al-Rasyidin dan Syamsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam : Pendekatan Histories, Teoritis, dan Praktis, Ciputat : Ciputat Press, 2005,h 55-56 [2] Abuddin Nata, Filsafat Pendidian Islam, Jakarta : Gaya Media Pratama, 2005, h 175-176 [3] Muzayyin Arifin, Filsafat Pendidika Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 2003, h 80-86 [4] Op. cit Abuddin Nata, h 176-177 [5] Abdul Mujib, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta : Kencana, 2005, h 148-154 [6] Ibid, Abdul Mujib, h 124 [7] Ibid, h 125-131 7 Op. cit, Muzayyin Arifin, h 87-88 [9] Op.cit, Abdul Mujib, h 131-133 [10] Op. Cit, Abuddin Nata, h 180 [11] Op.cit, al Rasyidin dan Samsul Nizar, h 179 [12] Op.cit, Abdul Mujib, h 134

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar